Juventus Dirasa Sulit Ulangi Pencapaian 8 Trophy Beruntungnya

Juventus Dirasa Sulit Ulangi Pencapaian 8 Trophy Beruntungnya – Rekor anyar dicatatkan oleh Juventus usai berhasil resmi mendapatkan juara Serie A musim 2018-2019. Gelar itu adalah gelar trofy Serie A kedelapan secara beruntun yang didapatkan oleh Juventus sejak 2011-2012. Pavel Nedved sang wakil Presiden Juventus itu yakin bahwa prestasi itu tidak akan mudah untuk diulangi lagi.

Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan berhasl memastikan Juventus musim ini mendapatkan trofy Serie A musim 2018-2019 usai berhasil mengalahkan Fiorentina dengan SKOR tipis 2-1 di hari Minggu 21/04/2019. Selisih 20 poin dan sisa pertandingan tinggal lima laga lagi itu tentu merupakan hal yang sangat mustahil dikejar oleh napoli, pada peringkat kedua saat ini.

Pesta langsung digelar oleh Juventus di Stadion Allianz tempat laga itu berlangsung usai wasit meniupkan tanda berakhirnya pertandingan. kesuksesan itu menjadikan Juventus memecahkan rekor terbaru mereka yaitu mendapatkan juara secara beruntun, tidak hanya di Serie A, akan tetapi juga di Eropa. sebuah catatan yang menurut Pavel Nedved adalah sebuah hal yang tidak mudah untuk diulangi.

“Menjaga rentetan kemenangan sepanjang laga dan kompetisi itu bukan sebuah hal yang mudah, akan tetapi juga bukan hal yang mustahil. Menurut saya, kemenangan beruntun ini tidak akan mudah untuk diulangi, terutama di Italia, tempat yang sulit untuk menjadi juara,” ujar Pavel Nedved

“Kami memenanginya secara beruntun lantaran punya pemain luar biasa dan juga dua pelatih yang hebat, akan tetapi di atas itu semua, mentalitas juara yang dimiliki oleh para pemain Juventus. Seluruh elemen tim pantas untuk mendapatkan pujian lantaran benar-benar bisa mendapatkan semua trofy ini,” ucap pria berpaspor Republik Ceko itu.

Secara resmi, total Scudetto Juventus saat ini sudah mendapatkan sebanyak 35 trofy Serie A. akan tetapi Juventini yakin bahwa tim kesayangannya itu akan bisa mendapatkan 37 gelar, dimana dua diantaranya yang sudah dicabut oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC) di tahun 2004-2005 dan 2005-2006, dimana itu adalah sebuah bentuk dari hukuman atas kasus Calciopoli.